Satu Alasan untuk Khawatir

Ada banyak alasan di dunia ini untuk kita merasa khawatir. Masa depan adalah salah satunya. Tidak berbeda dengan kebanyakan kita, saya sering membayangkan diri saya lima atau sepuluh tahun dari sekarang. Satu waktu saya tersenyum, membayangkan apa-apa saja yang berharap bisa terwujud, dengan optimisme membumbung tinggi ke angkasa. Lain waktu saya mengernyitkan dahi, melempar pandangan kosong pada dunia, kala permasalahan merundung menutupi bayang-bayang masa depan yang saya inginkan. Sesekali, manakala saya merasa hidup tengah tidak bersahabat, penuh masalah dan tidak sesuai harapan, masa depan terasa sangat jauh lagi gelap. Optimisme pun surut berganti kegelisahan tanpa jawaban. Meninggalkan keraguan atas berbagai pertanyaan tentang masa depan.

Saya percaya bahwa kekhawatiran semacam itu sebetulnya adalah wajah lain dari ketakutan: takut tidak bisa memenuhi ekspektasi orang lain. Tepat di momen-momen menjelang saya memakai jubah hitam dan topi segi-lima, perasaan ini datang menghantui. Berkuliah di universitas yang menyandang nama negara, di jurusan yang mematahkan hati banyak calon mahasiswa, dan beberapa prestasi di dalam maupun di luar kelas, saya merasa ada beban di pundak saya. Ekspektasi dari orang-orang di sekeliling secara tidak sadar tumbuh bersama apa yang diraih. Serupa rumah, tetangga melihat halaman dan luaran, si empunya melihat isi rumah. Ketika orang-orang melihat saya dari apa-apa saja yang pernah diraih, saya sendiri lebih banyak melihat apa-apa saja yang saya rasa belum kuasai selama delapan semester ambil kuliah. Tidak heran, ujung ceritera ini adalah saya takut belum siap meninggalkan kampus, sedangkan orang-orang nampaknya tidak sabar menunggu torehan-torehan baru saya setelah menyandang gelar sarjana.

Sekali waktu, ingin rasanya bebas dari ekspektasi orang lain. Tidak melulu dikurung standar tertentu. Bebas bilang kalau saya tidak tahu atau tidak mampu. Bebas bermalas-malasan hanya agar tidak menjadi apa yang orang bayangkan. Boleh pula gagal dalam menjalani suatu hal untuk coba-coba.

Sadar atau tidak, kita sebagai makhluk sosial banyak menghabiskan hidup kita untuk memenuhi ekspektasi orang lain. Tak apa. Itu disebut konformitas: mengubah sikap atau tingkah laku kita sesuai dengan norma sosial yang ada. Ada saja hal-hal seperti membawa buah-buahan untuk teman yang tengah sakit, memberi amplop berisi duit di kawinan, atau membagikan oleh-oleh sehabis bepergian jauh kita lakukan karena norma sosial mengekspektasikan kita berbuat demikian. Nah, kalau dipikir ulang, mungkin ada hal-hal lebih besar juga kita lakukan hanya karena kita melihat itu sebagai kebiasaan (norma) yang berlaku sehingga melakukannya agar sesuai ekspektasi orang-orang. Ambil contoh sekolah. Setelah lulus setiap tingkat pendidikan, terutama saat masih anak-anak, kita lanjut sekolah cenderung karena teman-teman kita juga lanjut sekolah (dan kita beruntung punya orang tua yang mampu menyekolahkan). Memilih SMA daripada SMK, memilih program sarjana daripada diploma, memilih lanjut sekolah atau langsung bekerja, memilih kerja di korporat daripada startup, memilih menikah di usia kepala dua daripada kepala tiga, apakah kita mengambil pilihan tersebut karena betul-betul paham setiap pilihan, ataukah menuruti ekspektasi teman-teman, guru, orang tua, atau pihak eksternal lainnya? Tentu saja kita berharap karena mengerti konsekuensi pilihan kita. Meskipun pada kenyataannya mungkin tidak selalu begitu.

Saya tidak berusaha mengatakan bahwa mengikuti ekspektasi lingkungan itu suatu kesalahan. Tidak juga mengatakan bahwa konformitas itu salah. Toh sejak lahir kita juga sudah menanggung ekspektasi orang tua yang tersemat pada nama kita. Ekspektasi, sebaliknya, sering kali membantu kita untuk tetap berada di jalur yang tepat. Mendorong kita berkembang menjadi versi lebih baik. Memaksa kita menembus batas-batas buatan kita sendiri. Setidaknya itu yang saya rasakan ketika kuliah. Ekspektasi lingkungan yang penuh prestasi serta penuh orang-orang ambi(sius) membuat saya menjadi saya sekarang. Tanpa ada ekspektasi demikian, bisa jadi saya tidak punya dorongan (lebih) untuk banyak-banyak bikin prestasi.

Saya cuma khawatir saya bakal memilih melakukan sesuatu yang menjadi ekspektasi orang lain daripada memilih melakukan apa-apa yang benar-benar saya inginkan. Selepas menamatkan kuliah, banyak sekali keputusan mesti diambil. Terkadang, ada dilema antara memenuhi ekspektasi orang lain dan menjalani hidup yang kita inginkan. Hidup ini memang sering kali bukan hanya tentang kita. Ada orang tua, keluarga, pasangan, sahabat, yang seakan-akan juga punya hak untuk dipertimbangkan ketika mengambil keputusan. Setelah banyak-banyak memikirkan ini, saya paham satu hal. Saya tidak takut gagal memenuhi ekspektasi mereka pada saya. Lebih dari itu, saya takut berhasil memenuhi ekspektasi mereka, kemudian sadar bahwa bukan itu yang saya inginkan.

Hidup kita, kita yang jalani. Orang boleh bilang kita harus hidup begini atau begitu. Orang boleh bilang hidup kita bahagia atau nelangsa. Tapi, pastikan saat kita tengok diri, ia menjadi apa yang kita kehendaki. Itu.

One Reply to “Satu Alasan untuk Khawatir”

Leave a Reply to DWI SARASWATI Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *