Catatan Si Mak

Depok, Agustus 2012

Bingung…

Cuma kata itu yang terpikirkan saat saya mau buat tulisan ini. Di sini, di Perpustakaan Pusat Universitas Indonesia ini, banyak sekali hal yang ingin saya ceritakan. Menulis itu sama seperti olahraga. Jika sudah lama tidak dilakukan, butuh pemanasan untuk melakukannya lagi. Saat saya lihat blog ini, ternyata posting terakhir pada awal bulan April. Itu berarti sudah empat bulan saya tidak mencurahkan pikiran dalam bentuk tulisan. Selama itu juga sudah sangat banyak kejadian yang terjadi. Akhirnya bingung harus cerita dari mana.

Hmm.. Coba kita mulai dari sini. Melihat tulisan yang satu itu membuat saya tersenyum simpul. Alhamdulillah Allah telah memberi jawaban atas doa saya selama setahun terakhir. Eits! doa yang mana dulu? Sebagai informasi, saya tidak diterima di kampus ITB yang sempat menjadi harapan dan tujuan saya.

Di sinilah saya sekarang

Yap! Saya diterima sebagai mahasiswa program sarjana Universitas Indonesia dengan program studi Ilmu Hubungan Internasional. Sebuah anugerah luar biasa! Bukan hanya hasil akhir yang saya sangat syukuri dari pengalaman ini, melainkan juga proses panjang yang Allah berikan pada saya untuk meraihnya. Proses panjang yang sangat berkesan dan memberi banyak pelajaran untuk saya. Mungkin juga untuk kalian yang membaca.

Setahun ke belakang adalah masa yang singkat namun terasa sangat panjang pada saat menjalaninya. Tahun terakhir masa putih-abu SMA dan juga tahun perjuangan untuk mendapatkan tempat kuliah. Tiga ujian beruntun harus dihadapi dengan waktu untuk mematangkan persiapannya hanya kurang dari satu tahun. Ujian Sekolah pada bulan Maret, Ujian Nasional pada bulan April, dan yang paling krusial Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) pada bulan Juni. Masa-masa itu adalah masa terberat bagi siswa SMA manapun termasuk saya. Setiap hari kerjaan kita cuma belajar, belajar, dan belajar lagi. Di sekolah, belajar pelajaran kelas 12. Pulangnya pemantapan untuk mengulang pelajaran kelas 10 dan 11. Selesai pemantapan dilanjut bimbingan belajar untuk mengulang dan belajar tipe soal-soal SNMPTN. Hari libur benar-benar mahal, apalagi hari Sabtu dan Minggu setiap sebulan sekali dipakai untuk try out dari bimbel. Pergi pagi, pulang malam. Begitu terus siklusnya. Mungkin proses itulah yang membuat diri kita merasa sangat bahagia ketika kita diterima di perguruan tinggi negeri apalagi yang tergolong favorit. Peluh yang keluar setiap harinya akan terbayar dengan kebahagiaan setelah diterima di perguruan tinggi negeri. Sebenarnya, untuk sebagian orang, menjalani masa itu tidak seberat itu bahkan menyenangkan. Saya merasa di semester satu masih banyak waktu bermain dengan teman. Saat guru tidak masuk kelas, menunggu waktu bimbel, atau di akhir minggu untuk melepas penat. Belajar pun jadi lebih menyenangkan saat itu. Kita punya tujuan dan target setiap bulannya. Perasaan sama-sama menderita tidak jarang membuat kita lebih akrab dengan teman sekelas ataupun teman bimbel. Terlebih lagi jika kita punya seseorang yang setia mendukung dan menemani kita selama belajar. Hehe.

Rintangan pertama, Ujian Sekolah. Lumayan ditakuti karena jadi bagian penilaian kelulusan. Namun, berkat bantuan guru yang memfokuskan kami pada materi yang akan diujikan, ujian ini terasa lebih mudah. Saya melewati ujian ini dengan lancar

Rintangan kedua, Ujian Nasional. Nilainya memengaruhi kelulusan sebesar 60% dan sangat disegani seluruh siswa se-Indonesia. Tidak hanya siswa yang takut, tetapi juga para guru. Kenapa? Karena saat ini Ujian Nasional sudah dipolitisasi dan mempunyai dampak luas pada selain siswa. Akreditasi guru, sekolah, kepala sekolah, bahkan penilaian terhadap walikota dan gubernur daerah sering kali dilihat dari tingkat kelulusan siswanya yang sangat ditentukan oleh Ujian Nasional ini. Semua beban itu mau tidak mau harus ditanggung siswa sendiri. Ada yang menarik dari pengalaman Ujian Nasional yang saya ikuti. Pada saat itu saya mencoba ikut sebuah gerakan anti-nyontek di kota saya, Kota Bandung. Sebagian mendukung dan sebagian besar lainnya mencibir. Sudah bukan rahasia umum saat ujian banyak praktik kecurangan. Kunci jawaban beredar dan diperjual-belikan. Bukan sembarang kunci jawaban, melainkan kunci yang tingkat kebenarannya mencapai 90% dan didistribusikan dengan rapi dan sistematis. Sebagai siswa yang merasa terpanggil untuk melawan, jadilah saya bergabung dengan gerakan itu dan mengampanyekan Ujian Nasional yang jujur dan bersih dari kecurangan. Kecurangan seperti menyontek sangat merugikan terutama pada siswa lain yang berusaha untuk jujur. Kerja keras bertahun-tahun bisa kalah oleh secarik kertas berisi 40 huruf. Hal itu tentu saja mengintimidasi siswa yang ingin jujur dan tidak jarang karena takut tidak lulus lalu jadi ikut-ikutan menggunakan kunci jawaban. Misalnya saya, ketika sedang mengerjakan ujian matematika, seorang teman menawarkan kunci jawaban. Hal itu sangatlah mengganggu. Saya termasuk siswa yang grogi berhadapan dengan matematika. Meskipun sudah menyiapkan semua materi, rasa tegang saat mengerjakan soal sulit dihilangkan. Saat saya mengerjakan ujian, baru 30 menit saja saya melihat teman-teman lain yang menggunakan kunci jawaban telah selesai, lalu pada saat yang sama saya ditawari kunci jawaban. Kondisi seperti itu ditambah waktu ujian yang semakin sedikit membuat saya panik dan semakin sulit untuk fokus mengerjakan soal. Alhasil saya hanya berhasil menjawab benar 23 soal dan mendapat nilai 6.75 untuk pelajaran ini. Jauh dibandingkan teman-teman yang menggunakan kunci jawaban. Alhamdulillah saya mampu melewati ujian ini dengan menjaga idealisme dan kejujuran yang memang seharusnya dijaga. Nilai lebihnya, ketika mendapat surat kelulusan, rasanya senang sekali. Selain karena hasilnya lumayan baik, prosesnya pun juga baik.

Surat kelulusan yang diantar Pak Pos

Setelah Ujian Nasional, ada jeda waktu kosong kurang lebih 5 minggu. Nah, waktu ‘pengangguran’ ini saya manfaatkan untuk persiapan SNMPTN. Ikutlah saya program intensif SNMPTN di Prosus INTEN Bandung. Saya yang mengambil program IPC harus rela pulang sedikit lebih malam dari yang mengambil hanya program IPA atau IPS. Mulai jam 7 pagi dan paling cepat bisa pulang ke rumah jam 6 sore. Lelah? sudah pasti. Rumah itu rasanya sudah berubah hanya menjadi tempat tidur saja. Sisanya dihabiskan belajar di bimbel dengan guru atau bersama teman. Senin sampai Kamis belajar sedangkan Jum’at dan Sabtu untuk try out. Benar-benar menguras waktu dan tenaga. Setiap minggu selalu ada target hasil try out yang harus dikejar agar nantinya kita percaya diri ketika ujian. Sebulan menjelang SNMPTN ini bisa dibilang masa bertaubat. Banyak siswa yang mendadak rajin shalat bahkan sampai shalat sunnah pun tidak terlewat. Berdoa hanya pada saat perlu memang kesannya buruk. Tapi setidaknya dengan cara seperti itu sebagian siswa menjadi lebih dekat dengan Allah. Jujur saja, saya sendiri termasuk yang tidak begitu rajin menjalankan shalat sunnah. Baik shalat dhuha maupun shalat tahajud tidak sering saya lakukan. Saya hanya berusaha selalu menjaga shalat fardhu berjamaah pada awal waktu di masjid dan setelahnya meluangkan waktu untuk bersungguh-sungguh berdoa pada Allah apa yang saya inginkan. Shalat dhuha dan tahajud hanya beberapa kali sempat saya kerjakan. Walaupun jarang, alhamdulillah setiap kali melaksanakan shalat sunnah itu saya bisa cukup khusyuk. Selain itu, untuk meloloskan doa, saya memperbanyak bersedekah dan berbuat baik pada orang-orang yang ada di sekitar saya.

Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri atau SNMPTN adalah sebuah mekanisme untuk memilih calon mahasiswa terbaik dari seantero negeri. Pada tahun ini ada dua jenis SNMPTN, yaitu Undangan dan Tertulis. SNMPTN Undangan adalah proses seleksi tanpa tes yang memungkinkan siswa diterima di PTN dengan mengirimkan nilai rapornya selama tiga semester di SMA. Peserta didik yang nilai rapornya memenuhi syarat akan mendapat kesempatan untuk mendaftar ke PTN yang dia inginkan tanpa mengikuti tes. Kuotanya tahun ini cukup besar, yaitu sebanyak 60%. Sedangkan untuk jalur tertulis, peserta harus mengikuti tes di tempat yang mereka pilih selama dua hari. Materi yang diujikan adalah tes potensi akademik dan kemampuan dasar (Matematika Dasar, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris) di hari pertama, lalu dilanjutkan kemampuan IPA (Matematika IPA, Fisika, Kimia, Biologi) dan IPS (Sejarah, Sosiologi, Geografi, Ekonomi) atau keduanya bagi peserta IPC di hari kedua. SNMPTN adalah sebuah ujian yang sangat krusial dan spesial menurut saya. Bukan karena ‘pake telor’, melainkan karena SNMPTN adalah gerbang yang akan menunjukkan masa depan kita. Bisa berkuliah di kampus terbaik adalah impian semua siswa. Bukan tanpa alasan pastinya. Universitas yang unggul akan menghasilkan lulusan unggulan yang kelak mampu bersaing di dunia kerja. Apalagi biasanya universitas seperti itu memiliki jaringan alumni yang kuat di dunia kerja. Oleh karena itu, mendapat kampus terbaik sangat penting untuk masa depan kita. Jadilah SNMPTN sebagai pintu gerbang menuju perguruan tinggi menjadi sangat penting. Di samping itu, tahukah kawan-kawan dari 250 juta rakyat Indonesia, hanya 9 persen kurang lebih yang mampu berkuliah. Sebagian mungkin karena sulit mengakses pendidikan tinggi, tetapi saya yakin sebagian besar karena tidak mampu secara ekonomi akibat mahalnya biaya pendidikan. Perguruan tinggi negeri sebagai perguruan tinggi yang mendapat subsidi pemerintah sehingga biaya kuliahnya tidak terlalu mahal tentu saja jadi salahsatu pilihan. Tetapi tentunya lagi-lagi itu tidak mudah. Keterbatasan jumlah kursi PTN mengharuskan PTN melakukan seleksi. Sebagai contoh, lulusan SMA/SMK/MAN/sederajat tahun 2012 sebanyak 1.036.478 siswa. Dan pada tahun ini 618.804 peserta SNMPTN harus memperebutkan 106.363 kursi PTN yang tersedia. Dengan persaingan yang sangat ketat itu, adalah sebuah kebahagiaan, kebanggaan dan kesempatan luar biasa jika kita bisa diterima di perguruan tinggi negeri apalagi yang merupakan PTN favorit. Dengan masuk PTN kita telah meringankan beban orang tua kita dan tentunya mendapat tiket untuk meraih masa depan yang kita harapkan. Tak heran jika banyak siswa yang mati-matian belajar untuk SNMPTN ini. Bagi saya sendiri, “SNMPTN adalah sebuah pertaruhan untuk masa depan.”

Pertaruhan ini saya persiapan dengan sungguh-sungguh. Setahun penuh dengan bantuan guru, bimbel, dan teman-teman seperjuangan saya belajar materi dan berlatih soal SNMPTN. Waktu istirahat sering kali harus dikorbankan, sedangkan waktu main hampir tidak ada lagi. Di sekolah, saya cukup serius mengikuti proses pembelajaran dan berhasil mendapatkan nilai-nilai yang cukup baik meskipun sempat terganggu ketika kelas 11 mengurus beberapa organisasi di sekolah. Di bimbel pun saya termasuk siswa yang mampu bersaing dengan teman-teman lainnya. Mungkin tidak pernah menjadi ranking satu pada try out, tetapi hampir selalu ada di halaman pertama. Tidak lupa setelah berusaha maksimal saya perbanyak berdoa agar Allah mengabulkan harapan saya. Memperbanyak ibadah seperti yang saya ceritakan di atas juga saya lakukan untuk mendapatkan ketenangan. Dengan hasil belajar saya yang diukur melalui try out, banyak guru dan teman-teman yang percaya bahwa saya akan lolos SNMPTN. Sebuah kepercayaan yang membesarkan hati dan membuat diri termotivasi juga bertambah percaya diri. Kapal persiapan telah diperkuat, harapan sudah terkembang, siap mengarungi lautan ujian yang telah ditunggu.

Harinya datang juga, hari berebut bangku. Bangku bukan sembarang bangku, tetapi bangku kuliah. Hari pertama, berjuang melawan rasa grogi agar bisa tenang menjawab soal. Rasanya hari pertama cukup baik walaupun sempat salah strategi pada ujian kemampuan dasar. Hari kedua, usaha untuk rileks dan santai tenyata kebablasan sehingga masuk kelas agak terlambat meskipun ujiannya belum mulai. Panik yang muncul cukup merepotkan, namun berhasil dilewati dengan aman terkendali. Pulang ujian, cek jawaban ke bimbel dan diyakinkan guru bimbel bisa masuk ITB. Ragu, tetapi hati mendoakan hal tersebut.

Orang biasanya mengira setelah SNMPTN adalah libur panjang. Nyatanya, kegalauan dalam penantian jangka panjang. Mau jalan dengan teman atau liburan pasti ada ganjalan pertanyaan “lulus ga ya?” dalam hati yang membuat kita malas melakukan sesuatu. Dalam kegalauan dan kelelahan belajar itu, saya mencoba mengisi waktu dengan ikut persiapan SIMAK UI. Tes mandiri untuk masuk Universitas Indonesia. Mungkin karena sudah bosan dan anti-klimaks, belajar di waktu ini cukup sulit berhubung semangat sudah habis untuk SNMPTN. Jadinya, datang dan pergi, belajar dan pulang semau kita. Percaya diri akan diterima lewat jalur SNMPTN, persiapan SIMAK pun jadi kurang maksimal.

Enam Juli dua ribu dua belas. Waktu ketika Tuhan menunjukkan kuasa akan takdirnya. Sebelumnya, saya diberi saran oleh Pak Supri, guru bahasa Indonesia INTEN untuk menunda melihat hasil SNMPTN sampai setelah SIMAK. Ketika jam menunjukkan pukul 19.00, timeline twitter mulai ramai akan teman-teman yang diterima di PTN. Saya langsung telpon beberapa teman untuk menanyakan kabar dan memberi selamat pada mereka yang berhasil diterima di PTN lewat jalur itu. Saya sendiri belum tahu dan awalnya tidak mau tahu. Bunda sempat meminta saya melihat hasil tapi saya bilang tidak. Setelah makan malam, saya berusaha tidur tapi ternyata sulit karena penasaran akan hasil ujian itu. Diam-diam saya ambil handphone lalu membuka website pengumuman. tiga-satu-empat-tiga-empat-nol-enam-delapan-satu-delapan-OK. Saya semakin tidak bisa tidur .

“Jangan putus asa dan tetap semangat!” katanya??

Di mana Allah setiap kali saya berdoa? Ke mana perginya satu tahun kerja keras, shalat saya, shalat sunnah, doa saya, sedekah saya, dan semua amal baik saya? Apa usaha saya kurang? Apa Allah tuli? Kenapa saya tidak diberikan kelulusan? Semua hal tiba-tiba terpikir saat itu. Marah, kecewa, menyesal, sedih. Malas untuk shalat berjamaah di masjid lagi. Malas untuk berdoa lagi. Percuma semua itu kalau doa kita tidak didengar. Tiga hari saya marah pada Tuhan, sering menunda shalat, berprasangka buruk dan malas berdoa. Namun, di hari ke tiga saya merasa malu. Saya merasa diri ini munafik karena menjadi baik selama berbulan-bulan hanya karena menginginkan sesuatu. Mungkin saat itu Allah ingin meilihat Ilman yang sebenarnya. Sehingga memberi kegagalan agar bisa melihat apakah saya akan tetap berusaha shaleh atau menjadi kufur ketika tidak mendapat apa yang diminta. Sadar akan hal itu, saya kembali berusaha mendekat pada Allah. Lebih banyak bersyukur dan berdoa meminta segera ditunjukkan jalan yang telah Allah pilihkan buat saya.

Dua hari setelah pengumuman saya harus kembali berjuang di SIMAK UI. Dengan semangat seadanya, dengan persiapan sekadarnya, dan dengan kepasrahan seutuhnya saya mengikuti tes dan hanya berharap orang tua melihat ini sebgai bentuk perjuangan saya. Mengerjakan soal tanpa target muluk-muluk membuat suasana menjadi rileks dan tidak gugup. Apalagi suasana ujian sudah pernah dirasakan sebelumnya. Sebuah hiburan sendiri ketika kita bertemu teman lain yang juga gagal di SNMPTN dan saling menyemangati satu sama lain. Meskipun dalam pikiran sudah terpikir mustahil mendapat pilihan pertama SIMAK, yaitu program studi Ilmu Hubungan Internasional. Tidak mungkin menjadi salahsatu dari 8 orang se-Indonesia yang diterima lewat SIMAK dengan persiapan seadanya. Apalagi ketika saya merasa tidak bisa mengerjakan kemampuan IPS yang menurut saya “level dewa”. Saking pasrahnya, saya banyak mengisi kemampuan IPS dengan modal ‘kira-kira’. Bahkan sebelum dikumpulkan, dalam hati saya mengatakan “Ya Allah, kalo Kau ingin saya masuk HI, saya pasti masuk. Tapi itu pasti sebuah keajaiban.”

Suasana rumah berubah setelah pengumuman SNMPTN. Mendung menggelayut di atas rumah saya. Optimisme hilang dan semua lebih sedikit bicara apalagi membahas SNMPTN. Waktu saya habiskan di rumah dan lebih banyak tidur, berharap kegagalan ini hanyalah mimpi yang akan lenyap ketika saya bangun nanti. Semua yang saya lakukan di rumah jadi terasa tidak nyaman. Muncul perasaan bersalah karena mengecewakan orang tua. Dalam masa ini terlihat sekali kesedihan Bunda, terutama ketika beliau ditanya saudara atau teman apakah saya lulus SNMPTN. Ayah yang biasanya diam pun kali ini angkat bicara menasehati saya dengan sedikit lebih keras. Kebenaran memang pahit dan mengiris ketika dikatakan. Evaluasi Ayah atas aktivitas saya selama setahun ditambah gambaran saya yang akan tersingkir dalam kehidupan sosial membangkitkan rasa penyesalan yang pedih. Selain SIMAK, saya mengikuti pula beberapa tes mandiri hanya demi mendapat bangku kuliah tahun ini. Seleksi Masuk Universitas Padjadjaran (SMUP), Seleksi Masuk Institut Teknologi Surabaya (SMITS), dan Seleksi Masuk Univ. Pendidikan Indonesia (SM UPI). Hasilnya?

Gagal SMUP
Gagal SMITS
Gagal SM UPI

Gagal, gagal, dan gagal lagi. Bagaimana rasanya ditolak perguruan tinggi negeri setiap minggu? sangat menyakitkan. Sungguh menyakitkan ketika teman-teman saya sudah tenang dan senang diterima di universitas yang mereka inginkan, saya masih bingung apakah saya bisa kuliah tahun ini. Suasana rumah semakin tidak nyaman. Ingin sekali rasanya pergi dan kabur jauh dari rumah. Yang membuat semakin sedih adalah sikap orang tua yang biasanya tidak peduli, kini tiba-tiba berusaha sekuat tenaga membantu mencari seleksi-seleksi yang masih membuka pendaftaran. Di waktu sibuk mereka, bukannya membantu atau membuat mereka senang, saya malah merepotkan mereka.

Kamis, 19 Juli 2012

Pukul 08.00, Ayah, Bunda, Teh Fitri, dan saya sudah duduk di kursi tunggu kecamatan untuk mengurus e-KTP. Sambil menunggu antrean panjang ini saya membaca buku Man Jadda Wajada, sampai ponsel saya bergetar. Telpon dari Luthfan itu segera kujawab.

“Assalamu’alaikum. Kenapa, Fan?”, kataku membuka percakapan.

“Wa’alaikumsalam. Man, selamat yaaa keterima HI UI.” kata suara di seberang telepon.

Deg! Badan langsung lemas.

“Haha.. Jangan bercanda, Fan. Paling juga salah tuh. Orang saya ngerjain kemampuan IPS nya aja ga bisa. Ga mungkin lah. Kalo diterima juga harusnya Teknik Mesin.”, jawabku dengan perasaan ragu.

“Bener, Man. Edo tadi udah ngecek websitenya. Selamat yaa!”, kata Lutfan sambil berusaha meyakinkan.

“Oh, gitu. Ya udah ntar aja deh Fan abis saya liat sendiri baru percaya.”, kataku menutup percakapan

Telpon saya tutup. Hal pertama yang saya pikirkan adalah ini pasti salah. Tidak mungkin saya diterima di HI UI.

“Siapa Man?”, Ayah tiba-tiba bertanya.

“Temen, Yah. Katanya Ilman keterima HI UI. Paling juga salah.”, jawabku sekenanya.

“Loh, cek dulu dong! Biar tau.”, suruh Ayah.

Bunda langsung membuka website pengumuman dengan ponsel. Setelah diberitahu nomor peserta saya, beliau terlihat sedikit tegang lalu raut wajahnya berubah perlahan menjadi senang. “Selamat, Anda diterima sebagai calon mahasiswa Universitas Indonesia”, Bunda membaca pengumuman dengan perlahan. Kuambil ponsel Bunda, kulihat sendiri pengumuman itu.

Seketika awan gelap yang selama ini menggantung lenyap. Berganti pelangi indah yang memancarkan keceriaan. Kepala yang selama ini hanya bisa tertunduk malu, kini bisa kembali ditegakkan. Setting kecamatan hilang seketika. Saya peluk Ayah dan Bunda satu per satu. Kemudian mereka memberi selamat kepada saya atas kelulusan yang didapat. Tidak lupa Teh Fitri juga memberi selamat. Kita semua berpelukan menyambut kabar baik yang selama ini ditunggu-tunggu. Di kantor kecamatan, berpelukan. Itulah momen kelulusan saya.

Segera saya kabari keluarga, sahabat, dan teman yang selama ini juga menunggu kabar bahagia ini. Saya terharu mendengar nenek saya memberi selamat sambil menangis karena selama ini berdoa terus untuk kelulusan saya. Juga terharu akan teman-teman seperjuangan yang telah lulus duluan tapi tidak melupakan saya. Sungguh, keajaiban itu ada. Sungguh, hasil itu sesuai usaha kita. Dan sungguh, Allah selalu mempunyai rencana yang lebih baik dan tak terduga untuk hambaNya.

Lulus SIMAK

Saya bersyukur atas pengalaman ini. Ada pepatah mengatakan, “Kita belajar lebih banyak dari kegagalan dibanding keberhasilan.”. Itu saya rasakan dari pengalaman ini. Mencicipi kegagalan membuat saya lebih mampu bersimpati dan rendah hati terhadap orang lain. Pengalaman ini juga mengajarkan saya bahwa Allah itu adil dan selalu memberikan yang terbaik, meskipun terkadang bukan itu yang diminta.

Untuk teman-temanku yang sudah memiliki bangku kuliah, mari berikan yang terbaik untuk bangsa! Kita adalah orang-orang terpilih dan beruntung yang bisa mencapai pendidikan tinggi.

Untuk teman-temanku yang masih berjuang untuk lulus seleksi, ingatlah di ujung jalan sana sudah Tuhan sediakan pilihan terbaikNya. Salam.

One Reply to “Catatan Si Mak”

  1. Cerita ini sinkron sama segala ingatan aku waktu itu man. Kamu nelpon malem2 pas pengumuman untuk ngucapin selamat, kamu bilang mau liat pengumuman di koran (bukan di website) keesokan harinya, kamu ngilang setelah ngasih kabar bahwa kamu gagal snmptn, dan pada akhirnya kamu nelpon aku suatu hari pas aku lagi siang-siang bolong di jatinangor untuk ngabarin bahwa kamu keterima di HI UI. Usaha memang nggak pernah mengkhianati hasil ya, man.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *